
Setelah menentukan judul penelitian, persoalan berikutnya biasanya muncul: “Latar belakangnya harus ditulis dari mana?”
Pertanyaan ini sebenarnya tidak kalah sulit dibandingkan menentukan judul. Banyak orang sudah memiliki judul, tetapi ketika membuka halaman pertama proposal atau artikel ilmiah, tiba-tiba bingung harus menulis kalimat apa. Akhirnya latar belakang dimulai dengan kalimat yang sangat umum, kemudian dipenuhi definisi, kutipan, pendapat para ahli, dan data yang ditempelkan satu per satu. Setelah beberapa halaman, pembaca mungkin mendapatkan banyak informasi, tetapi belum tentu memahami satu hal yang paling penting: sebenarnya penelitian ini muncul karena ada persoalan apa?
Menurut saya, di sinilah kita perlu memahami kembali fungsi latar belakang. Latar belakang bukan sekadar bagian untuk membuat tulisan menjadi panjang sebelum masuk ke rumusan masalah. Latar belakang adalah tempat peneliti menceritakan alasan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Karena itu, latar belakang seharusnya membawa pembaca dari kondisi yang lebih umum menuju persoalan yang semakin spesifik, sampai akhirnya pembaca merasa bahwa penelitian tersebut memang layak dan perlu dilakukan.
Kalau kita kembali pada contoh yang digunakan dalam pembahasan sebelumnya, yaitu semakin luasnya penggunaan AI generatif dalam penulisan akademik, kita sebenarnya sudah memiliki titik awal yang cukup jelas. Kita melihat sebuah fenomena: teknologi AI generatif semakin mudah digunakan dan semakin banyak dimanfaatkan untuk membantu berbagai aktivitas akademik. Orang menggunakannya untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, merangkum informasi, bahkan membantu menyusun tulisan akademik. Fenomena inilah yang dapat menjadi pintu pertama dalam menulis latar belakang.
Namun, jangan langsung melompat ke judul penelitian. Kita perlu membawa pembaca memahami terlebih dahulu mengapa fenomena tersebut penting.
Kita bisa memulai dengan menggambarkan perubahan yang sedang terjadi. Dunia akademik mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Kehadiran AI generatif membuat proses memperoleh dan mengolah informasi menjadi jauh lebih mudah. Jika sebelumnya seseorang harus membaca banyak sumber untuk menemukan gagasan awal, sekarang teknologi dapat membantu menghasilkan ide dalam waktu yang sangat singkat. Jika sebelumnya seseorang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyusun kerangka tulisan, kini AI dapat memberikan alternatif struktur hanya dalam hitungan detik. Perubahan seperti ini tentu menarik karena teknologi bukan lagi sekadar alat tambahan, tetapi mulai masuk ke dalam proses berpikir dan menulis.
Sampai di sini, sebenarnya kita baru berbicara tentang fenomena.
Dan itu belum cukup menjadi latar belakang penelitian.
Kita kemudian perlu bertanya: apa persoalan yang muncul dari fenomena tersebut?
Di sinilah latar belakang mulai bergerak dari sesuatu yang umum menuju sesuatu yang lebih spesifik. Penggunaan AI generatif memang menawarkan berbagai kemudahan dalam penulisan akademik, tetapi kemudahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan baru. Ketika seseorang semakin mudah mendapatkan jawaban, gagasan, atau bahkan teks dari sebuah sistem AI, apakah kemampuan berpikir dan menulisnya juga berkembang? Atau justru ada kemungkinan muncul ketergantungan terhadap teknologi? Apakah pengguna benar-benar memahami informasi yang dihasilkan AI, atau hanya menerima dan menggunakannya? Bagaimana seseorang memastikan bahwa informasi yang diberikan AI benar dan dapat dipertanggungjawabkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menunjukkan adanya masalah penelitian.
Perhatikan alurnya. Kita tidak tiba-tiba mengatakan bahwa “AI memiliki dampak terhadap kemampuan berpikir kritis”. Kita terlebih dahulu menceritakan fenomenanya, kemudian menunjukkan bahwa di balik fenomena tersebut terdapat persoalan yang perlu dipahami. Dengan cara seperti ini, pembaca tidak merasa bahwa masalah penelitian muncul secara tiba-tiba.
Setelah masalah mulai terlihat, langkah berikutnya adalah memberikan bukti bahwa persoalan tersebut memang nyata dan penting untuk diperhatikan. Di sinilah data dapat digunakan.
Data dalam latar belakang bukan sekadar hiasan agar tulisan terlihat ilmiah. Data seharusnya membantu memperkuat cerita yang sedang dibangun. Jika kita mengatakan bahwa penggunaan AI generatif semakin luas, kita perlu menunjukkan bukti mengenai perkembangan tersebut. Jika kita mengatakan bahwa AI mulai digunakan dalam aktivitas akademik, kita bisa menghadirkan hasil penelitian, laporan, survei, atau sumber terpercaya yang menunjukkan kecenderungan tersebut.
Tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan menumpuk data tanpa menjelaskan maknanya.
Misalnya kita menemukan sebuah survei yang menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif di kalangan akademik meningkat. Jangan berhenti pada angka tersebut. Jelaskan mengapa angka itu penting bagi penelitian kita. Hubungkan data tersebut dengan persoalan yang sedang dibangun.
Dengan demikian, data tidak berdiri sendiri. Data menjadi bagian dari argumentasi.
Setelah menunjukkan bahwa fenomenanya nyata, kita kemudian perlu memperlihatkan konsekuensi atau persoalan yang mungkin muncul. Dalam contoh penggunaan AI generatif, persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi tersebut digunakan atau tidak. Persoalan yang lebih menarik adalah bagaimana penggunaan tersebut berkaitan dengan proses berpikir dan penulisan akademik. Teknologi yang mampu menghasilkan jawaban dengan cepat dapat membantu pekerjaan akademik, tetapi pada saat yang sama dapat menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa jauh pengguna masih terlibat dalam proses berpikirnya sendiri.
Di sinilah latar belakang mulai menjadi lebih tajam.
Kita tidak lagi berbicara tentang “AI dalam pendidikan” secara umum. Kita mulai mempersempit pembicaraan pada hubungan antara penggunaan AI generatif dan kemampuan berpikir dalam penulisan akademik.
Tetapi perjalanan latar belakang belum selesai.
Kita masih perlu melihat penelitian sebelumnya.
Mengapa?
Karena sebuah penelitian tidak boleh berdiri seolah-olah kita adalah orang pertama yang menemukan persoalan tersebut. Bisa jadi sudah banyak penelitian yang membahas penggunaan AI generatif dalam pendidikan. Ada penelitian yang melihat manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi belajar dan menulis. Ada pula penelitian yang menyoroti persoalan ketergantungan, akurasi informasi, integritas akademik, dan perubahan cara belajar.
Membaca penelitian terdahulu di bagian latar belakang bukan berarti kita harus memasukkan sebanyak mungkin penelitian. Yang lebih penting adalah memilih penelitian yang membantu menunjukkan posisi penelitian kita.
Misalnya, setelah membaca berbagai penelitian, kita menemukan bahwa penelitian mengenai AI generatif sudah cukup banyak, tetapi hasilnya belum sepenuhnya seragam. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa AI dapat membantu proses akademik, sementara penelitian lain menunjukkan adanya risiko ketergantungan dan berkurangnya keterlibatan pengguna dalam proses berpikir. Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang menarik: jika hasil penelitian sebelumnya belum sepenuhnya memberikan gambaran yang sama, sebenarnya bagaimana hubungan penggunaan AI generatif dengan kemampuan berpikir kritis dalam penulisan akademik?
Nah, di sinilah kita mulai menemukan research gap.
Research gap inilah yang membuat penelitian kita memiliki alasan untuk hadir.
Tanpa gap, latar belakang bisa berubah menjadi sekadar cerita panjang tentang sebuah fenomena. Kita mungkin berhasil menjelaskan bahwa AI sedang berkembang, banyak digunakan, memiliki manfaat, dan memiliki risiko. Tetapi pembaca masih bisa bertanya: “Lalu apa yang ingin diteliti?”
Karena itu, setelah menjelaskan fenomena, masalah, data, dan penelitian terdahulu, latar belakang perlu membawa pembaca menuju bagian yang belum terjawab.
Dari sinilah fokus penelitian mulai terlihat.
Dalam contoh kita, peneliti tidak perlu meneliti semua persoalan mengenai AI. Tidak perlu sekaligus membahas kreativitas, motivasi belajar, integritas akademik, kemampuan menulis, produktivitas, etika, dan berbagai persoalan lainnya. Itu justru akan membuat penelitian terlalu luas.
Peneliti memilih satu fokus yang dianggap penting, misalnya hubungan intensitas penggunaan AI generatif dengan kemampuan berpikir kritis dalam penulisan akademik.
Pilihan fokus ini kemudian harus mempunyai alasan. Mengapa kemampuan berpikir kritis? Karena penulisan akademik bukan hanya persoalan menghasilkan teks. Di dalamnya terdapat proses memahami informasi, mengevaluasi sumber, membandingkan gagasan, menyusun argumentasi, dan menarik kesimpulan. Jika AI semakin banyak digunakan untuk membantu proses tersebut, maka penting untuk memahami apakah intensitas penggunaannya memiliki hubungan dengan kemampuan berpikir kritis.
Pada titik ini, pembaca mulai memahami ke mana penelitian akan diarahkan.
Kemudian muncul pertanyaan berikutnya: mengapa penelitian ini penting dilakukan sekarang?
Inilah yang disebut dengan urgensi penelitian.
Urgensi tidak harus selalu ditulis dengan kalimat, “Penelitian ini penting dilakukan karena…” Justru akan lebih kuat apabila urgensi tersebut terasa dari keseluruhan argumentasi yang sudah dibangun.
AI generatif berkembang dengan sangat cepat. Penggunaannya dalam aktivitas akademik semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis merupakan bagian penting dalam proses akademik. Jika terdapat hubungan antara pola penggunaan AI dan kemampuan berpikir kritis, maka persoalan tersebut bukan hanya menarik secara teoritis, tetapi juga memiliki implikasi terhadap cara kita memandang penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
Sampai di sini, latar belakang sebenarnya sudah membawa pembaca melalui sebuah perjalanan.
Kita memulai dari sesuatu yang umum: AI generatif semakin berkembang dan digunakan dalam aktivitas akademik.
Kemudian kita mempersempitnya menjadi persoalan: penggunaan AI dapat mengubah cara seseorang melakukan proses berpikir dan menulis.
Kemudian kita menunjukkan bahwa persoalan tersebut perlu dibuktikan dan dipahami.
Setelah itu kita melihat penelitian terdahulu.
Dari penelitian terdahulu kita menemukan celah atau pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.
Kemudian kita menentukan fokus.
Dan akhirnya kita sampai pada alasan mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.
Barulah judul penelitian terasa masuk akal.
Misalnya judul yang sebelumnya kita rumuskan adalah:
“Hubungan Intensitas Penggunaan AI Generatif dengan Kemampuan Berpikir Kritis dalam Penulisan Akademik.”
Sekarang judul tersebut tidak lagi muncul seperti kalimat yang tiba-tiba ditempelkan di halaman proposal. Pembaca sudah dibawa melalui proses berpikir yang menjelaskan mengapa judul tersebut dipilih.
Lalu, bagaimana menulisnya dalam paragraf?
Setelah memahami alurnya, kita bisa membuat pola yang jauh lebih praktis. Latar belakang tidak harus selalu terdiri dari jumlah paragraf tertentu, karena kebutuhan setiap penelitian berbeda. Tetapi sebagai kerangka awal, kita dapat membayangkan latar belakang seperti sebuah corong: mulai lebar, kemudian semakin sempit, dan akhirnya mengarah tepat pada penelitian yang akan dilakukan.
Paragraf pertama dapat digunakan untuk memperkenalkan fenomena. Isinya menjawab pertanyaan: Apa yang sedang terjadi? Dalam contoh kita, paragraf pertama dapat membicarakan perkembangan AI generatif dan semakin mudahnya teknologi tersebut digunakan dalam aktivitas akademik. Jangan langsung membicarakan masalah penelitian. Biarkan pembaca terlebih dahulu memahami perubahan yang sedang terjadi.
Paragraf kedua dapat digunakan untuk memperkuat fenomena dengan data atau fakta. Di sini kita dapat memasukkan hasil survei, laporan, statistik, atau temuan penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif memang semakin luas. Polanya sederhana: fenomenanya apa, buktinya apa, dan apa arti bukti tersebut? Ingat, jangan hanya menempelkan angka. Setelah menyajikan data, jelaskan mengapa data tersebut penting bagi pembahasan.
Paragraf ketiga mulai masuk ke persoalan. Setelah pembaca mengetahui bahwa AI generatif semakin banyak digunakan, kita mulai bertanya tentang konsekuensinya. Kemudahan yang diberikan teknologi ternyata membawa pertanyaan baru mengenai proses berpikir, kemampuan menulis, ketergantungan, dan kemampuan pengguna dalam mengevaluasi informasi. Di sini kita mulai mempersempit pembicaraan dari “AI generatif” menjadi persoalan yang lebih spesifik.
Paragraf keempat dapat digunakan untuk menunjukkan mengapa persoalan tersebut perlu diperhatikan. Kita bisa menjelaskan bahwa penulisan akademik bukan hanya kegiatan menghasilkan teks, tetapi juga melibatkan proses berpikir, mengevaluasi informasi, menyusun argumen, dan mengambil kesimpulan. Dengan demikian, semakin luasnya penggunaan AI generatif bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyentuh proses akademik itu sendiri.
Paragraf kelima masuk pada penelitian terdahulu. Di sini kita tidak perlu memasukkan semua penelitian yang pernah ditemukan. Pilih penelitian yang benar-benar berkaitan dengan persoalan. Tunjukkan apa yang sudah diketahui. Misalnya, ada penelitian yang menemukan manfaat AI dalam membantu proses akademik, tetapi ada pula penelitian yang menunjukkan risiko ketergantungan atau berkurangnya keterlibatan pengguna dalam proses berpikir. Paragraf ini sebaiknya bukan sekadar daftar “Peneliti A mengatakan…, Peneliti B mengatakan…, Peneliti C mengatakan…”. Yang lebih penting adalah memperlihatkan hubungan antara penelitian-penelitian tersebut.
Paragraf keenam digunakan untuk menunjukkan research gap. Ini bagian yang sangat penting. Setelah membaca penelitian terdahulu, jelaskan apa yang masih belum jelas. Misalnya, penelitian mengenai AI generatif sudah cukup banyak, tetapi hubungan antara intensitas penggunaannya dengan kemampuan berpikir kritis dalam penulisan akademik belum memberikan gambaran yang cukup jelas. Di sinilah kita menjawab pertanyaan: “Kalau penelitian sebelumnya sudah banyak, mengapa penelitian ini masih perlu dilakukan?”
Paragraf ketujuh dapat digunakan untuk menunjukkan fokus dan urgensi penelitian. Setelah gap terlihat, jelaskan bagian mana yang akan diteliti dan mengapa bagian tersebut penting. Dalam contoh kita, fokusnya adalah hubungan intensitas penggunaan AI generatif dengan kemampuan berpikir kritis dalam penulisan akademik. Urgensinya muncul karena penggunaan AI berkembang cepat, sementara kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas akademik.
Paragraf terakhir kemudian dapat digunakan untuk mengantarkan pembaca menuju penelitian yang akan dilakukan. Di sinilah judul, tujuan, atau arah penelitian mulai terasa sebagai konsekuensi logis dari seluruh pembahasan sebelumnya. Bukan tiba-tiba mengatakan, “Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian…” tanpa alasan yang jelas, tetapi menunjukkan bahwa setelah fenomena, masalah, penelitian terdahulu, gap, dan urgensi dijelaskan, penelitian tersebut memang menjadi langkah yang logis.
Kalau pola tersebut disederhanakan, kita bisa mengingatnya dengan urutan:
Paragraf 1: Apa yang terjadi?
Paragraf 2: Seberapa nyata fenomena tersebut?
Paragraf 3: Masalah apa yang muncul?
Paragraf 4: Mengapa masalah tersebut penting?
Paragraf 5: Apa yang sudah diketahui dari penelitian sebelumnya?
Paragraf 6: Apa yang belum terjawab?
Paragraf 7: Apa fokus penelitian dan mengapa penting?
Paragraf 8: Penelitian apa yang kemudian perlu dilakukan?
Tentu saja, delapan paragraf tersebut bukan aturan baku. Satu paragraf bisa saja menjadi dua paragraf jika membutuhkan penjelasan lebih panjang. Sebaliknya, dua bagian bisa digabung apabila pembahasannya singkat. Yang harus dijaga bukan jumlah paragrafnya, melainkan alur berpikirnya.
Inilah yang sering dilupakan ketika menulis latar belakang. Orang sibuk memikirkan, “Saya harus membuat sepuluh halaman,” padahal yang lebih penting adalah apakah paragraf pertama memiliki hubungan dengan paragraf kedua, apakah paragraf kedua mengantarkan ke paragraf ketiga, apakah penelitian terdahulu benar-benar mengarah pada gap, dan apakah gap tersebut akhirnya mengantarkan pembaca pada fokus penelitian.
Latar belakang yang baik seharusnya terasa seperti sebuah perjalanan yang masuk akal. Pembaca tidak merasa sedang dilempar dari satu informasi ke informasi lainnya, tetapi diajak berjalan perlahan sampai akhirnya memahami mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.
Inilah menurut saya inti dari sebuah latar belakang penelitian.
Latar belakang bukan sekadar kumpulan teori. Bukan pula tempat untuk memindahkan semua hasil pencarian Google. Bukan tempat untuk memasukkan sebanyak mungkin kutipan. Dan bukan juga perlombaan membuat tulisan sepanjang mungkin.
Latar belakang pada dasarnya adalah sebuah argumentasi.
Peneliti sedang mengatakan kepada pembaca: “Ini fenomena yang sedang terjadi. Ini bukti bahwa fenomena tersebut nyata. Ini persoalan yang muncul. Ini yang sudah diketahui dari penelitian sebelumnya. Namun, masih ada bagian yang belum terjawab. Karena itu, saya ingin meneliti bagian tersebut.”
Kalau alurnya seperti itu, sebenarnya menulis latar belakang menjadi jauh lebih mudah.
Kita tidak perlu memikirkan harus menulis lima halaman atau sepuluh halaman terlebih dahulu. Jangan memulai dengan menghitung jumlah halaman. Mulailah dengan membangun cerita ilmiah yang masuk akal.
Dari fenomena menuju masalah. Dari masalah menuju bukti. Dari bukti menuju penelitian terdahulu. Dari penelitian terdahulu menuju research gap. Dari research gap menuju fokus. Dari fokus menuju urgensi. Dan akhirnya menuju penelitian yang akan dilakukan.
Dengan cara pandang seperti ini, latar belakang bukan lagi sekadar bagian yang harus “diisi” sebelum rumusan masalah. Latar belakang menjadi tempat kita meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang akan dilakukan memang mempunyai alasan yang kuat untuk hadir.
Dan ada satu hal yang menurut saya penting untuk diingat: jangan menulis latar belakang untuk membuat penelitian terlihat penting. Tulislah latar belakang untuk menunjukkan mengapa penelitian itu memang penting.
Perbedaannya kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam cara berpikir.
Penelitian yang baik tidak membutuhkan latar belakang yang penuh kata-kata besar. Ia membutuhkan alasan yang jelas, bukti yang cukup, penelitian terdahulu yang relevan, celah yang nyata, dan pertanyaan yang memang layak dicari jawabannya.
Pada akhirnya, kalau kita sudah memahami bagaimana judul penelitian terbentuk, maka sebenarnya kita juga sudah memiliki dasar untuk memahami bagaimana latar belakang ditulis.
