
Menulis latar belakang itu sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Yang sering membuat bingung adalah kita langsung membuka Word, menulis sebuah definisi, mengutip pendapat para ahli, lalu mencari referensi sebanyak-banyaknya. Setelah beberapa halaman, ternyata kita sendiri masih bingung: sebenarnya apa yang ingin diteliti?
Nah, supaya tidak seperti itu, coba bayangkan bahwa latar belakang adalah cerita tentang sebuah masalah yang ingin kita pecahkan atau pahami secara ilmiah. Kita mulai dari gambaran besarnya, menemukan masalah yang lebih spesifik, melihat apa yang sudah diteliti orang lain, menemukan bagian yang belum terjawab, lalu menjelaskan apa yang akan kita lakukan.
Kita gunakan contoh judul berikut:
“Implementasi Media Pembelajaran Berbasis Local Wisdom untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Siswa MA di Jawa Timur.”
Contoh kalimat di bawah ini merupakan ilustrasi untuk membantu memahami alur penulisan. Kalimat tersebut belum menjadi latar belakang final karena kondisi madrasah, data lapangan, dan kesenjangan penelitiannya masih perlu dibuktikan.
1. Mulai dari fenomena umum: sebenarnya kita sedang membicarakan apa?
Jangan langsung membahas sekolah tertentu. Mulailah dari persoalan yang lebih luas, misalnya pentingnya media pembelajaran dan keterampilan siswa dalam proses pendidikan.
Contoh kalimat paragraf:
“Pembelajaran di madrasah tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk tidak sekadar memahami materi secara teoritis, tetapi juga mengembangkan kemampuan melalui aktivitas praktik. Dalam konteks ini, penggunaan media pembelajaran menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena dapat membantu menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman belajar siswa.”
Apa gunanya paragraf ini?
Kita sedang mengajak pembaca memahami konteks besarnya. Belum perlu membicarakan media tertentu atau langsung menyatakan bahwa pembelajaran di MA bermasalah.
Pertanyaan yang harus dijawab: Mengapa topik ini penting dibicarakan dalam pendidikan?
2. Persempit pembahasan: masalah konkretnya apa?
Setelah menjelaskan fenomena umum, kita mulai masuk ke persoalan yang lebih spesifik. Misalnya, bagaimana pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan psikomotorik.
Contoh kalimat paragraf:
“Pengembangan keterampilan psikomotorik membutuhkan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan praktik, mencoba prosedur, dan memperoleh umpan balik atas aktivitas yang dilakukan. Namun, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut dapat berbeda-beda sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, metode pengajaran, dan media yang digunakan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya mengkaji bagaimana pembelajaran dirancang agar siswa memperoleh pengalaman praktik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.”
Perhatikan bahwa contoh ini belum menuduh semua madrasah menggunakan metode ceramah atau memiliki keterampilan siswa yang rendah. Kita baru menunjukkan persoalan yang layak dikaji.
Kalau sudah melakukan observasi awal, paragraf ini dapat diperkuat dengan temuan nyata. Misalnya, guru menjelaskan bahwa siswa mengalami kesulitan ketika melakukan suatu praktik, atau hasil pengamatan menunjukkan bahwa media yang tersedia belum mendukung aktivitas tertentu.
Tentu saja, temuan tersebut harus benar-benar diperoleh di lapangan.
Pertanyaan yang harus dijawab: Masalah apa yang membuat penelitian ini perlu dilakukan?
3. Jelaskan mengapa masalah tersebut penting
Sekarang pembaca sudah mengetahui persoalannya. Berikutnya, jelaskan mengapa persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Contoh kalimat paragraf:
“Pengembangan keterampilan psikomotorik perlu mendapat perhatian karena keterampilan tersebut berkaitan dengan kemampuan siswa menerapkan pengetahuan melalui tindakan atau praktik. Jika proses pembelajaran tidak memberikan kesempatan yang memadai untuk berlatih, penguasaan materi secara teoritis belum tentu diikuti oleh kemampuan melakukan suatu keterampilan dengan baik. Oleh sebab itu, diperlukan kajian mengenai strategi dan media pembelajaran yang dapat mendukung pengalaman praktik siswa sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di madrasah.”
Paragraf ini menjelaskan urgensi penelitian. Kita menunjukkan konsekuensi yang mungkin muncul jika pembelajaran kurang memberikan pengalaman praktik, tetapi tidak membuat klaim berlebihan bahwa semua siswa pasti mengalami masalah tersebut.
Pertanyaan yang harus dijawab: Mengapa masalah ini penting untuk diteliti sekarang?
4. Tawarkan kemungkinan solusi: mengapa menggunakan local wisdom?
Setelah menjelaskan masalah, barulah kita memperkenalkan gagasan yang akan dikaji, yaitu media pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Jangan hanya menulis bahwa Jawa Timur kaya akan budaya. Itu baru menjelaskan potensi, belum menjelaskan hubungannya dengan pembelajaran.
Contoh kalimat paragraf:
“Jawa Timur memiliki beragam warisan budaya yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, seperti seni tari tradisional, batik, kerajinan lokal, permainan rakyat, dan berbagai praktik budaya masyarakat. Unsur-unsur budaya tersebut dapat diadaptasi menjadi media pembelajaran apabila sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Sebagai contoh, kegiatan membatik dapat digunakan untuk memberikan pengalaman praktik yang melibatkan koordinasi tangan dan mata, sedangkan pembelajaran seni tari dapat memberikan kesempatan untuk melatih koordinasi gerak dan ketepatan mengikuti pola gerakan. Pemanfaatan kearifan lokal dengan demikian berpotensi menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan budaya yang dekat dengan kehidupan siswa.”
Nah, sekarang sudah terlihat hubungan antara masalah dan kemungkinan solusinya.
Namun, ingat: tidak semua budaya otomatis cocok menjadi media pembelajaran. Kita harus memilih aktivitas yang sesuai dengan keterampilan yang hendak dikembangkan.
Pertanyaan yang harus dijawab: Mengapa solusi ini layak dipertimbangkan dibandingkan dengan pilihan lainnya?
5. Masukkan teori untuk menjelaskan hubungan tersebut
Pada bagian ini, kita mulai menggunakan teori dan konsep ilmiah. Tidak perlu memasukkan semua teori sekaligus. Pilih teori yang benar-benar membantu menjelaskan hubungan antara media, aktivitas belajar, dan keterampilan siswa.
Contoh kalimat paragraf:
“Secara konseptual, media pembelajaran dapat berfungsi sebagai sarana yang membantu siswa memahami materi dan melakukan aktivitas belajar secara lebih terarah. Ketika media tersebut dirancang dengan melibatkan praktik langsung, siswa memperoleh kesempatan untuk mengamati, mencoba, mengulang gerakan, dan memperbaiki kesalahan berdasarkan umpan balik. Integrasi kearifan lokal dalam media pembelajaran dapat memberikan konteks yang bermakna bagi aktivitas tersebut. Meskipun demikian, efektivitas penggunaannya dalam mengembangkan keterampilan psikomotorik tetap perlu dikaji berdasarkan karakteristik media, tujuan pembelajaran, dan kondisi peserta didik.”
Paragraf ini berbeda dari paragraf sebelumnya. Sebelumnya kita menjelaskan potensi budaya lokal, sedangkan sekarang kita menjelaskan alasan konseptual mengapa media tersebut mungkin mendukung proses belajar.
Agar lebih kuat, tambahkan rujukan ilmiah yang benar-benar membahas media pembelajaran, pembelajaran kontekstual, dan keterampilan psikomotorik.
Pertanyaan yang harus dijawab: Mengapa secara teoretis solusi tersebut masuk akal?
6. Cari tahu apa yang sudah diteliti orang lain
Ini bagian yang sering membuat penulis berhenti cukup lama. Padahal, cara berpikirnya sederhana: kita ingin tahu apakah orang lain sudah membahas persoalan serupa dan apa yang mereka temukan.
Misalnya, kita menemukan tiga penelitian hipotetis berikut untuk latihan menyusun argumentasi:
- Penelitian A membahas penggunaan permainan tradisional sebagai media pembelajaran.
- Penelitian B membahas penggunaan batik untuk pembelajaran berbasis praktik.
- Penelitian C membahas pengembangan keterampilan psikomotorik siswa melalui pembelajaran langsung.
Nama dan hasil tersebut hanya ilustrasi, bukan referensi penelitian nyata yang boleh dikutip.
Contoh kalimat paragraf:
“Sejumlah penelitian mengenai pemanfaatan budaya lokal dalam pendidikan dapat digunakan untuk memahami bagaimana unsur budaya diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran. Kajian mengenai permainan tradisional, misalnya, dapat memberikan gambaran tentang penggunaan aktivitas budaya sebagai pengalaman belajar, sedangkan penelitian mengenai pembelajaran berbasis praktik dapat membantu menjelaskan proses pengembangan keterampilan peserta didik. Kedua kelompok penelitian tersebut perlu dibandingkan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan media berbasis kearifan lokal telah dikaji secara khusus dalam kaitannya dengan pengembangan keterampilan psikomotorik siswa pada jenjang Madrasah Aliyah.”
Dalam naskah sebenarnya, kalimat seperti “sejumlah penelitian” harus diikuti rujukan yang relevan. Akan lebih baik jika kita menyebut penulis, tahun, fokus penelitian, dan temuan utamanya.
Jangan hanya menulis:
“Penelitian A membahas budaya lokal. Penelitian B membahas media pembelajaran. Penelitian C membahas keterampilan siswa.”
Bandingkan hasilnya. Apa persamaannya? Apa perbedaannya? Apa yang belum dijelaskan?
Pertanyaan yang harus dijawab: Apa yang sudah diketahui dari penelitian terdahulu?
7. Temukan research gap: apa yang belum terjawab?
Setelah membaca penelitian terdahulu, barulah kita dapat menyusun kesenjangan penelitian.
Misalnya, setelah melakukan penelusuran yang memadai, kita menemukan bahwa penelitian tentang budaya lokal sudah cukup banyak, tetapi kajian yang secara khusus menjelaskan proses penerapan media berbasis kearifan lokal untuk mengembangkan keterampilan psikomotorik siswa MA dalam konteks tertentu masih terbatas.
Jika hasil penelusuran benar-benar mendukung kesimpulan tersebut, contoh kalimatnya dapat ditulis seperti ini:
“Meskipun pemanfaatan kearifan lokal dalam pendidikan telah menjadi perhatian dalam berbagai penelitian, masih diperlukan kajian lebih lanjut mengenai bagaimana unsur budaya lokal diadaptasi menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengembangan keterampilan psikomotorik siswa Madrasah Aliyah. Selain itu, penting untuk memahami bagaimana proses implementasinya berlangsung, keterampilan apa yang menjadi sasaran, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapannya dalam konteks madrasah. Kesenjangan tersebut menjadi dasar perlunya penelitian yang tidak hanya membahas potensi budaya lokal, tetapi juga mengkaji penerapannya dalam praktik pembelajaran.”
Sekali lagi, paragraf tersebut baru contoh rumusan. Kita tidak boleh menyatakan adanya kesenjangan tersebut sebagai fakta sebelum memeriksa literatur.
Perlu juga diingat bahwa research gap bukan sekadar “belum ada penelitian di lokasi saya”. Kesenjangan yang lebih kuat menjelaskan apa yang belum dipahami dan mengapa kekurangan pengetahuan tersebut penting.
Pertanyaan yang harus dijawab: Bagian mana yang masih belum terjawab, dan mengapa perlu diteliti?
8. Jelaskan kebaruan, kemudian tutup dengan tujuan penelitian
Setelah research gap ditemukan, kita perlu menunjukkan apa yang akan disumbangkan penelitian ini. Inilah yang disebut novelty atau kebaruan.
Kebaruan tidak harus selalu berupa teori baru. Untuk penelitian implementasi, kontribusi dapat berupa penjelasan yang lebih mendalam tentang proses penerapan media, hubungan antara karakteristik aktivitas budaya dan keterampilan yang dikembangkan, atau faktor kontekstual yang memengaruhi implementasi.
Contoh kalimat paragraf penutup:
“Berdasarkan permasalahan dan kesenjangan kajian tersebut, penelitian ini diarahkan untuk menganalisis implementasi media pembelajaran berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran di Madrasah Aliyah di Jawa Timur. Penelitian ini berfokus pada bentuk media yang digunakan, proses penerapannya, keterampilan psikomotorik yang menjadi sasaran, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan madrasah.”
Contoh di atas lebih cocok apabila penelitian Anda menggunakan pendekatan kualitatif.
Jika Anda ingin benar-benar membuktikan adanya peningkatan kemampuan, tujuan dan desain penelitiannya perlu disesuaikan, misalnya dengan menggunakan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi.
Dengan demikian, latar belakang tidak berhenti pada pernyataan bahwa kearifan lokal itu menarik. Latar belakang membawa pembaca dari persoalan pendidikan menuju kebutuhan penelitian yang jelas.

Berikut gambar Peta Konsep Alur Latar Belakang Penelitian berdasarkan contoh judul Implementasi Media Pembelajaran Berbasis Local Wisdom untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Siswa MA di Jawa Timur.
